Kamis, 04 Juni 2015

Simple LOVE





Hari Pertama Sekolah..
Reyna-begitulah namanya dan biasa dipanggil Rey. Dia adalah gadis cuek, jutek dan nggak peduli sama penampilan. Nggak kebanyakan dari cewek seumurannya yang sering ke salon atau ber-makeup. Rey mempunyai kulit kuning langsat, mempunyai lesung pipi, tinggi semampai, rambutnya hitam agak bergelombang dan panjang sepunggung tapi sering dikuncir. Matanya belok, pipinya tembem, hidungnya kecil, sedikit mancung. Bisa dikatakan Rey mempunyai wajah yang babyface.  Rey adalah anak kedua dari dua bersaudara. Ia mempunyai seoarang kakak laki-laki yang sedang melanjutkan studynya di Paris. Rey duduk dikelas 2 SMA, yaa bisa dibilang masih puber-pubernya. Setiap pagi Rey selalu diantar oleh orangtuanya ke sekolah. Maklum sebagai anak terkecil dan cewek, jadi kemana-mana Rey selalu di antar meskipun umurnya sudah menginjak 16 tahunan.
Global Bilingual School (GBS) masih terlihat sepi. Itulah sekolah Rerey-GBS, salah satu sekolah swasta favorit yang ada di daerahnya. Terletak tidak jauh dari kompleks rumahnya. Hari ini adalah hari pertama sekolah setelah libur semester duaminggu yang lalu. Rey memasuki pintu gerbang dengan menghela nafasnya, akhirnya mulai sekolah lagi deh, belajar, dengerin penjelasan guru yang panjang lebar dan kadang bisa bikin ngantuk, ngerjain tugas, tapi harus tetap semangat dan awali hari ini dengan senyuman Reyna, batin Rey dan sambil tersenyum.
Rey pun tiba dikelasnya dan langsung duduk di tempat duduknya yang biasa. Ternyata Orin sudah datang lebih dulu.Orin adalah teman sebangku Rey dan sahabatnya dari SMP.
“Hai Rin, apa kabar? gimana liburan?” Tanya Rey sambil meletakkan tasnya di atas meja
“Biasa aja kok Rey, nggak ada seru-serunya, kalau kamu gimana?” Tanya Orin balik sambil membaca sebuah buku
“Masa sih Rin biasa aja? Masih mending kamu ada liburan, lah aku liburan malah mendekam di rumah.”
“Senasib dong Rey, aku sih iya liburan pergi ke Bogor tapi sama aja mendekam di hotel, Ayah Bunda aku malah sibuk ngurusin bisnisnya di sana. Tau gitu mending aku di sini aja.” Celoteh Orin sambil menutup bukunya.
Teeetttt..teeetttt.. bel pertanda masuk pun berbunyi dan menghentikan pembicaraan sahabat tersebut.

***

Jam istirahat pun tiba, seperti biasa Rerey dan Orin pergi ke kantin bersama dan selalu menduduki bangku di pojok kantin, katanya sih biar leluasa ngelirik kesana kemari.
“Eh Rey, liat deh cowok yang disebelah sana.” Kata Orin sambil melihat ke salah satu cowok yang tidak jauh dari pojok kantin tersebut.
“Siapa?” Tanya Rey balik sambil menuangkan saos kedalam mangkok bubur ayamnya.
“Liat dulu makanya, kayaknya anak baru deh.” Balas Rin yang masih terus melihat ke arah cowok tersebut.
“Yang mana sih Rin?” Tanya Rey penasaran sambil celingak-celinguk.
“Itu tuh! masa nggak keliatan sih Rey, cakep banget.” Jawab Rin sambil menunjukkan matanya ke tempat cowok itu.
“Maksud kamu yang disebelah kak Radit itu?”
“Iya Rey, kayaknya anak baru di sekolah kita ya? Nggak pernah liat aku cowok cakep gitu di sekolah ini” Tanya Rin penasaran.
Lebay deh Rin, biasa aja keless. Cowok cakep di sekolah nih mah banyak kali Rin. Minus kamu bertambah lagi tuh kali, makanya kamu sampe segitunya bilang buat tuh cowok.” Kata Rey sambil meminum orangejusnya.
“Kok kamu gitu sih? Cakep tau. Nggak ada hubungannya sama minus kacamata aku keless.” Balas Rin dengan wajah agak cemberut dan kembali melahap mienya.

***
Bruukk! Tiba-tiba Orin ditabrak oleh seorang cowok dan terjatuh di tangga, tepat Rey berada di belakangnya.
            “Oopss, sorry..sorry.. Maaf  ya aku nggak maksud buat ngedorong kamu sampe jatuh.” Kata cowok  tersebut sambil ingin membantu Orin berdiri namun Rey sudah memegang bahu temannya tersebut untuk membantunya berdiri.
            “Kalo loe sengaja mah nggak punya otak kali, nabrak temen gue sampe jatuh gini. Kalo dia jatuh ke bawah sana gimana, mau tanggung jawab? Makanya kalo turun tangga tuh jangan sambil lari.” kata Rey ketus

            “Udahlah Rey, aku nggak papa kok. Nggak ada yang luka juga pun. Lagian dia kan nggak sengaja” kata Orin lembut sambil menenangkan Rey yang sedikit emosi.
            Orin terlihat penuh kegembiraan diwajahnya, karena cowok yang diliatnya di kantin tadi. Tiba-tiba ngobrol dengannya meskipun berawal dengan sebuah tabrakan yang membuat Orin sendiri terjatuh. Namun Orin tak memperdulikannya, sakit pun hilang karena melihat sosok cowok yang dia kagumi tepat berada didepannya sambil meminta maaf padanya.
            “Sekali lagi kakak minta maaf ya Rin, bener kata temen kamu kalo turun tangga tuh emang nggak usah lari-lari. Gini deh jadinya.” Kata cowok itu lagi sambil melirik ke arah Rey.
            “Udah nggak usah dimasukin ke hati kak kata-kata temen Orin barusan, dia emang agak jutek. Orin nggak papa kok.” Kata Orin sambil tersenyum pada cowok itu.
            “Kamu gimana sih Rin, udah dibelain juga. Kok  malah bilang buat aku.” Celoteh Rey dengan tampang agak kesal.
            “Maaf juga ya Rey, udah bikin temen kamu jatuh. Oh ya, kalian kelas berapa nih?” Tanya cowok itu.
            “Iya kali ni aku maafin, tapi kalo terulang lagi. Jangan harap deh.” Ketus Rey dengan tampang cuek.
            “Kami berdua kelas 2 IPA 3 kak, yang di ujung sana.” Sambung Orin sambil menunjukkan ke ujung koridor dan tersenyum.
            “Oo…berarti kelas kalian tepat dibawah kelas kakak dong, kelas kakak di 3 IPA 3.” Balas cowok itu sambil tersenyum pada Orin.
            “Tapi kok kakak nggak pernah keliatan iya. Oh ya, nama kakak siapa?” Tanya Orin ingin tau.
            “ihh kamu apaan sih Rin, ditabrak sampe jatuh gitu kok malah ngobrol panjang lebar. Pake nanya nama segala.” Ketus Rey dengan tampang semakin kesal.
            “Aauu! Apaan sih kamu Rin.” Rey kesakitan karena kakinya sengaja diinjak oleh Orin.
            “Masa sih nggak pernah keliatan, kakak mah selalu lewat sini kali toh nih jalan juga satu-satunya buat turun kebawah kan?! oh iya, nama kakak Aliff.” balas cowok itu sambil tersenyum lepas pada Orin.
            “Iya juga sih, mungkin Orin nya aja yang nggak begitu perhatiin kalo ada orang lewat.” Orin kembali tersenyum pada Aliff sambil memegang kacamatanya.
            “Kacang..kacang..kacang..” sindir Rey pada Orin yang keasyikan ngobrol dengan Aliff.
            “Yaudah kalo gitu, kalian udah bisa masuk tuh. Entar gurunya marah pula kalian kelamaan masuk kelas. Kakak juga mau ke perpus dulu nih. Sekali lagi kakak minta maaf ya Rin.” Kata Aliff tersenyum.
“Yang nanya loe mau ke perpus juga siapa.” Kata Rey ketus dengan nada agak kecil namun dapat terdengar oleh Aliff dan Orin.
            “Rey! Kata Orin sambil menatap dan menyenggol sengaja tangan Rey . Iya, nggak papa kok kak. Udah cukup minta maafnya. Nggak sengaja juga kan.” Balas Orin kembali tersenyum.
            Rey pun kemudian langsung menarik Orin untuk pergi, dan Aliff pun mulai menuruni tangga. Namun baru beberapa anak tangga yang dilewati, Aliff pun menoleh kembali.
            “Oya Rin, bilang sama temen kamu tuh. Jadi cewek jangan jutek banget, serem.” kata Aliff tersenyum.
            “Maksud loe?!” Sahut Rey dengan nada kesal.
            Aliff hanya membalas ucapan Rey tersebut dengan sebuah senyuman, dan langsung pergi meninggalkan Orin dan Rey.
            Sepanjang jalan memasuki kelas Rey pun terus berceloteh sendiri karena kesal pada Orin dan Alif. Sedangkan Orin tersenyum-senyum sendiri karena peristiwa yang tidak disangkanya tersebut.

***
Tiba-tiba saja hujan turun dengan lebatnya, Rey duduk sendirian di beranda depan sekolahnya yang menunggu dijemput oleh ayahnya. Sedangkan Orin sudah terlebih dahulu dijemput sebelum hujan turun. Jam pun sudah menunjukkan tepat pukul 14.00 wib, dan Rey sudah menunggu ayahnya hampir setengah jam. Hal itu membuat Rey merasa lapar, dengan cuaca yang dingin dan pastinya sangat enak bila menyantap makanan yang hangat-hangat. Rey pun beranjak dari tempat duduknya dan menuju ke kantin sekolah. Berharap masih ada makanan yang bisa mengganjal perutnya yang sedang lapar tersebut. Biasanya kalo jam segini Bu Tuti emang masih jualan di kantin. Sesampainya di kantin, suasananya sangat sepi hanya ada Bu Tuti yang masih berjualan di kantin sekolah. Rey pun langsung duduk di meja tepat di tengah-tengah, karena tak ada seorang siswa pun di kantin tersebut.
“Bu, mie baksonya satu kayak biasa ya.” Pesan Rey.
“Iya.” Jawab Bu Tuti sambil menyiapkan pesanan Rey.
            Rey pun sibuk memencet tuts HP-nya, mencoba terus menghubungi orangtuanya. Namun tetap saja tak ada jawaban. “Ayah kemana sih sampe jam segini belum jemput-jemput juga. Bunda juga daritadi di telfon sibuk terus.” Batin Rey dengan wajah cemberut.
            “Tumben dik Reyna, jam segini belum dijemput?” tanya Bu Tuti sambil menaruh mie bakso pesanan Rey di depannya.
            “Iya nih Bu, nggak tau tuh kenapa Ayah belum jemput udah jam segini.” Jawab Rey dengan tampang lesu sambil mengaduk mie baksonya.
            Tiba-tiba saja suasana kantin mulai ramai. Segerombolan siswa kelas 3 IPA 3 termasuk Radit  memasuki kantin Bu Tuti  dan duduk tak jauh dari tempat Rey. Namun Rey tak mempedulikannya, karena dia sibuk menghubungi Ayahnya sambil menyantap mie baksonya.
            “Sssttt. Liat deh, siapa tuh cewek?” tanya Vino teman sekelas Radit sambil menunjukkan ke arah Rey.
            Radit dan teman-temannya yang lain pun menoleh ke arah yang ditunjuk oleh Vino.
            “Loh Rey?! Belum pulang?” tiba-tiba tanya Radit dari jauh pada Rey yang sedang mengaduk mienya.
            Rey pun menoleh. “Belum kak, Ayah belum jemput.” Balas Rey
            “Tumben dijemputnya lama?”
            “Nggak tau nih kak. Macet kali karena hujan.”
            “Ikut gabung sini aja Rey. Daripada sendirian.” Kata Radit sambil tersenyum.
            “Nggak usah deh kak, makasih. Rey disini aja.” Balas Rey tersenyum dan kembali untuk menyantap mienya.
            “Siapa tuh Dit? Kok loe kenal sih?” tanya Vino sambil meminum capucinonya.
            “Jelas gue kenal lah, rumahnya satu kompleks sama gue.” Balas Radit sambil mengaduk minumannya.
            “Cakep juga tuh Dit. Nggak berrniat kenalin sama gue Dit?” Tanya Vino tersenyum.
            Kalo dikenalin sama loe mah yang ada kasian anak orang.” Kata salah satu temannya
            “Iya bener. Kalo loe mah mana pernah serius deketin cewek, yang ada loe mainin semua.” Kata temannya yang lain.
            “Enak aja. Itu mah bukan mainin namanya bro tapi penjajakan untuk mendapat yang terbaik nantinya.” Balas Vino tersenyum pada teman-temannya.
            “Ah ngeles aja loe.” Kata teman yang satunya.
            “Udah-udah, apaan sih kalian nih. Ribut aja. Lagian nggak mungkin gue kenalin si Rey sama loe Vin. Dia tuh cewek baik-baik jadi nggak cocok sama loe.” Kata Radit yang menyindir Vino.
            “Bener banget tuh omongan loe Dit.” Kata salah satu temannya sambil ngakak.
            Vino hanya mendengar sindiran teman-temannya. Ya.. Vino memang terkenal playboy di Global Bilingual School. Karena ia keseringan gonta-ganti pacar.
            “Heii.. ke kantin nggak ngajak-ngajak. Maen tinggalin gue aja sendiri tadi.” Kata Aliff yang tiba-tiba datang menghampiri teman-temannya.
            “Kalian kenapa? Kok pada ngakak gitu sih?” tanya Aliff sambil duduk di depan Radit.
            “Itu Liff, si Vino minta dikenalin sama cewek yang rumahnya deket sama rumah Radit.” balas temannya.
            “Cewek yang mana yang deket rumah Radit?” tanya Aliff ingin tau.
            “Itu Liff, cewek yang lagi duduk sendirian di sana tuh.” jawab salah satu temannya sambil menunjukkan ke arah Rey.
            Aliff pun mulai melihat dan menyadari bahwa itu adalah Rey, adik kelas yang memarahinya tadi siang di tangga.
            “Emang rumahnya dekat sama rumah loe Dit?” tanya Aliff ingin tau.
            “Iya Liff. Bukan dekat lagi, emang di depan rumah gue.” Jelas Radit.
            “Halo, Yah. Akhirnya Ayah angkat juga telepon Rey. Ayah kemana aja sih kok daritadi Rerey telepon nggak diangkat-angkat. Ayah nggak lupa buat jemput Rey di sekolah kan?” tiba-tiba Rey berbicara dengan Ayahnya lewat HP-nya dengan nada sedikit khawatir.
            “…ooh, kirain kenapa Ayah nggak datang-datang buat jemput Rey. Yaudah kalo gitu Rey pulang naik taksi aja ya Yah. Sayang Ayah juga sih lagi banyak kerjaan di Kantor.”
            “… nggak papa kok Yah. Ayah tenang aja, Rey nggak kan kenapa-napa kok, Rey bisa jaga diri. Lagian kalo ada papa, Rey pasti hubungin Ayah kok nanti. Rey pulang naik taksi aja ya?” kata Rey meyakinkan Ayahnya.
            “Nampaknya dia nggak dijemput tuh Dit. Nggak berniat nganterin?” tanya salah satu temannya.
            “Tadinya emang gue mau nganterin, tapi nggak tau nawarinnya gimana. Tapi sekarang gue emang disuruh pulang bareng dia kayaknya.” Jawab Radit tersenyum.
            Drama loe Dit. Bilang aja loe ciut ngajak dia pulang bareng. Kayak gue dong. Gentle sama cewek.” Balas Vino sambil tertawa kecil.
            Ternyata Radit udah kenal sedekat itu sama Rey. Rumah mereka juga deket. Tapi kenapa gue nggak pernah liat Rey waktu ke rumahnya Radit ya. Di sekolah pun gue jarang liat Rey. Bahkan Rey ngomong sama Radit pun gue nggak pernah liat. Apa karena kemarin-kemarin gue nggak terlalu perhatiin ya? ditambah lagi sebelum liburan gue nggak masuk seminggu karena jagain nyokap di rumah sakit. Tapi kenapa sekarang tiba-tiba Rey muncul dan kenapa gue jadi penasaran sama dia. Batin Aliff bertanya-tanya dengan wajah agak bingung.
            Loe kenapa Liff?” Tanya Radit yang menyadarkan lamunan Aliff.
            “Nggak kenapa-napa kok Dit.” Balas Aliff tersenyum kecil.
            “Eh, bentar ya.” Kata Radit sambil beranjak dari tempat duduknya dan mendekati Rey.
            Aliff melihat Radit yang duduk di depan Rey sekarang, kemudian wajahnya merunduk kembali sambil meminum minumannya.
            “Hai Rey, belum dijemput juga?” tanya Radit yang manghampiri Rey.
            “Eh, kak Radit. Ngapain kak jam segini masih di sekolah?”
            “Loh kok malah tanya balik sih Rey. Jawab dulu dong pertanyaan kakak barusan. Kok kamu belum pulang udah jam segini? Nggak dijemput?” tanya Radit kembali.
            “Ayah katanya lagi sibuk banget di kantornya kak, banyak kerjaan. Jadi nggak sempat jemput deh.” Jawab Rey sambil meminum teh hangatnya.
            “Yaudah pulang bareng kakak aja Rey. Rumah kita kan deket, deket banget malah. Gimana?” tanya Radit menawarkan.
            “Nggak  usah deh kak, makasih. Rey pulang naik taksi aja”. Jawab Rey lembut sambil tersenyum.
Yakin? Rumah kita kan dekatan jadi apa salahnya kalo kita pulang bareng?” tanya Radit kembali.
“Nggak usah deh kak Radit, makasih. Rey pulang naik taksi aja kak. Sekali lagi makasih ya kak.” Balas Rey sambil tersenyum dan beranjak pergi dari hadapan Radit meninggalkan kantin.
“Kenapa Dit? Ditolak mentah-mentah ya?” kata Vino dari tempat duduknya sambil nyengir.
“Namanya juga usaha bro. Lagipun Rey tuh bukan cewek sembarangan kali, walaupun rumah kita deketan tapi gue ngomong sama dia ya gitu-gitu aja.” Jawab Radit sampbil menghampiri teman-temannya kembali.
Tapi kok sama aku Reyna jutek banget ya. Apa karena dia udah kenal sama Radit sedangkan sama aku belum makanya dia gitu? Apa karena aku juga tadi yang salah? Batin Radit.
***
to be continued..

Tidak ada komentar:

Posting Komentar