Reyna-begitulah namanya dan biasa dipanggil
Rey. Dia adalah gadis cuek,
jutek dan nggak peduli sama penampilan. Nggak kebanyakan dari cewek seumurannya
yang sering ke salon atau ber-makeup. Rey mempunyai kulit kuning langsat,
mempunyai lesung pipi, tinggi semampai, rambutnya hitam agak bergelombang dan
panjang sepunggung tapi sering dikuncir. Matanya belok, pipinya tembem, hidungnya
kecil, sedikit mancung. Bisa dikatakan Rey mempunyai wajah yang babyface. Rey
adalah anak kedua dari dua bersaudara. Ia mempunyai seoarang kakak laki-laki
yang sedang melanjutkan studynya di
Paris. Rey duduk dikelas 2 SMA, yaa bisa dibilang masih puber-pubernya. Setiap
pagi Rey selalu diantar oleh orangtuanya ke sekolah. Maklum sebagai anak
terkecil dan cewek, jadi kemana-mana Rey selalu di antar meskipun umurnya sudah
menginjak 16 tahunan.
Global Bilingual School (GBS) masih terlihat sepi. Itulah sekolah Rerey-GBS, salah satu sekolah swasta favorit yang ada di
daerahnya. Terletak tidak jauh dari kompleks rumahnya. Hari ini adalah hari pertama sekolah setelah libur
semester duaminggu yang lalu. Rey memasuki pintu gerbang dengan menghela nafasnya,
akhirnya mulai sekolah lagi deh, belajar,
dengerin penjelasan guru yang panjang lebar dan kadang bisa bikin ngantuk,
ngerjain tugas, tapi harus tetap semangat dan awali hari ini dengan senyuman
Reyna, batin Rey dan sambil tersenyum.
Rey pun tiba dikelasnya dan langsung
duduk di tempat duduknya yang biasa. Ternyata Orin sudah datang lebih dulu.Orin
adalah teman sebangku Rey dan sahabatnya dari SMP.
“Biasa aja kok Rey, nggak ada seru-serunya,
kalau kamu gimana?” Tanya Orin balik sambil membaca sebuah buku
“Masa sih Rin biasa aja? Masih mending kamu ada liburan, lah aku liburan malah mendekam di rumah.”
“Senasib dong Rey, aku
sih iya liburan pergi ke Bogor tapi sama aja mendekam di hotel, Ayah Bunda aku
malah sibuk ngurusin bisnisnya di sana. Tau gitu mending aku di sini aja.”
Celoteh Orin sambil menutup bukunya.
Teeetttt..teeetttt.. bel pertanda masuk
pun berbunyi dan menghentikan pembicaraan sahabat tersebut.
***
Jam istirahat pun tiba, seperti biasa
Rerey dan Orin pergi ke kantin bersama dan selalu menduduki bangku di pojok
kantin, katanya sih biar leluasa ngelirik kesana kemari.
“Eh Rey, liat deh cowok yang disebelah
sana.” Kata Orin sambil melihat ke salah satu cowok yang tidak jauh dari pojok
kantin tersebut.
“Siapa?” Tanya Rey balik sambil menuangkan saos kedalam mangkok bubur
ayamnya.
“Liat dulu makanya, kayaknya anak baru
deh.” Balas Rin yang masih terus melihat ke arah cowok tersebut.
“Yang mana sih Rin?” Tanya Rey penasaran
sambil celingak-celinguk.
“Itu tuh! masa nggak keliatan sih Rey,
cakep banget.” Jawab Rin sambil menunjukkan matanya ke tempat cowok itu.
“Maksud kamu yang disebelah kak Radit
itu?”
“Iya Rey, kayaknya anak baru di sekolah
kita ya? Nggak pernah liat aku cowok cakep gitu di sekolah ini” Tanya Rin
penasaran.
“Lebay deh
Rin, biasa aja keless. Cowok cakep di sekolah nih mah banyak kali Rin. Minus kamu
bertambah lagi tuh kali, makanya kamu sampe segitunya bilang buat tuh cowok.”
Kata Rey sambil meminum orangejusnya.
“Kok kamu gitu sih? Cakep tau. Nggak ada
hubungannya sama minus kacamata aku keless.” Balas Rin dengan wajah agak cemberut dan kembali melahap
mienya.
***
Bruukk! Tiba-tiba Orin ditabrak oleh seorang
cowok dan terjatuh di tangga, tepat Rey berada di belakangnya.
“Oopss, sorry..sorry..
Maaf ya aku nggak maksud buat ngedorong kamu
sampe jatuh.” Kata cowok tersebut sambil ingin membantu Orin berdiri
namun Rey sudah memegang bahu temannya tersebut untuk membantunya berdiri.
“Kalo loe
sengaja mah nggak punya otak kali, nabrak temen gue sampe
jatuh gini. Kalo dia jatuh ke bawah sana gimana, mau tanggung jawab? Makanya
kalo turun tangga tuh jangan sambil lari.” kata Rey ketus
“Udahlah Rey, aku
nggak papa kok. Nggak ada yang luka juga pun. Lagian dia kan nggak sengaja”
kata Orin lembut sambil menenangkan Rey yang sedikit emosi.
Orin terlihat
penuh kegembiraan diwajahnya, karena cowok yang diliatnya di kantin tadi.
Tiba-tiba ngobrol dengannya meskipun berawal dengan sebuah tabrakan yang
membuat Orin sendiri terjatuh. Namun Orin tak memperdulikannya, sakit pun hilang karena melihat sosok cowok yang dia kagumi tepat berada didepannya
sambil meminta maaf padanya.
“Sekali lagi
kakak minta maaf ya Rin, bener kata temen kamu kalo turun tangga tuh emang
nggak usah lari-lari. Gini deh jadinya.” Kata cowok itu lagi sambil melirik ke
arah Rey.
“Udah nggak usah dimasukin ke hati kak kata-kata temen
Orin barusan, dia emang agak jutek. Orin nggak papa kok.” Kata Orin sambil
tersenyum pada cowok itu.
“Kamu gimana sih
Rin, udah dibelain juga. Kok malah bilang buat aku.” Celoteh Rey dengan tampang agak kesal.
“Maaf juga ya
Rey, udah bikin temen kamu jatuh. Oh ya, kalian kelas berapa nih?” Tanya cowok
itu.
“Iya kali ni aku
maafin, tapi kalo terulang lagi. Jangan harap deh.” Ketus Rey dengan tampang
cuek.
“Kami berdua
kelas 2 IPA 3 kak, yang di ujung sana.” Sambung Orin sambil menunjukkan ke
ujung koridor dan tersenyum.
“Oo…berarti kelas
kalian tepat dibawah kelas kakak dong, kelas kakak di 3 IPA 3.” Balas cowok itu
sambil tersenyum pada Orin.
“Tapi kok kakak
nggak pernah keliatan iya. Oh ya, nama kakak siapa?” Tanya Orin ingin tau.
“ihh kamu apaan
sih Rin, ditabrak sampe jatuh gitu kok malah ngobrol panjang
lebar. Pake nanya nama segala.” Ketus Rey dengan tampang semakin kesal.
“Aauu! Apaan sih
kamu Rin.” Rey kesakitan karena kakinya sengaja diinjak oleh Orin.
“Masa sih nggak
pernah keliatan, kakak mah selalu lewat sini kali toh nih jalan juga
satu-satunya buat turun kebawah kan?! oh iya, nama kakak Aliff.” balas cowok
itu sambil tersenyum lepas pada Orin.
“Iya juga sih,
mungkin Orin nya aja yang nggak begitu perhatiin kalo ada orang lewat.” Orin
kembali tersenyum pada Aliff
sambil memegang kacamatanya.
“Kacang..kacang..kacang..”
sindir Rey pada Orin yang keasyikan ngobrol dengan Aliff.
“Yaudah kalo
gitu, kalian udah bisa masuk tuh. Entar gurunya marah pula kalian kelamaan
masuk kelas. Kakak juga mau ke perpus dulu nih. Sekali lagi kakak minta maaf ya
Rin.” Kata Aliff tersenyum.
“Yang nanya loe mau ke
perpus juga siapa.” Kata Rey ketus dengan nada agak kecil namun dapat terdengar
oleh Aliff dan Orin.
“Rey! Kata Orin
sambil menatap dan menyenggol sengaja tangan Rey . Iya, nggak papa kok kak.
Udah cukup minta maafnya. Nggak sengaja juga kan.” Balas Orin kembali
tersenyum.
Rey pun kemudian
langsung menarik Orin untuk pergi, dan Aliff pun mulai menuruni tangga. Namun
baru beberapa anak tangga yang dilewati, Aliff pun menoleh kembali.
“Oya Rin, bilang
sama temen kamu tuh. Jadi cewek jangan jutek banget, serem.” kata
Aliff tersenyum.
“Maksud loe?!”
Sahut Rey dengan nada kesal.
Aliff hanya
membalas ucapan Rey tersebut dengan sebuah senyuman, dan langsung pergi
meninggalkan Orin dan Rey.
Sepanjang jalan
memasuki kelas Rey pun terus berceloteh sendiri karena kesal pada Orin dan
Alif. Sedangkan Orin tersenyum-senyum sendiri karena peristiwa yang tidak
disangkanya tersebut.
***
Tiba-tiba saja hujan turun dengan
lebatnya, Rey duduk sendirian di beranda depan sekolahnya yang menunggu
dijemput oleh ayahnya. Sedangkan Orin sudah terlebih dahulu dijemput sebelum
hujan turun. Jam pun sudah menunjukkan tepat pukul 14.00 wib, dan Rey sudah
menunggu ayahnya hampir setengah jam. Hal itu membuat Rey merasa lapar, dengan
cuaca yang dingin dan pastinya sangat enak bila menyantap makanan yang
hangat-hangat. Rey pun beranjak dari tempat duduknya dan menuju ke kantin
sekolah. Berharap masih ada makanan yang bisa mengganjal perutnya yang sedang
lapar tersebut. Biasanya kalo jam segini Bu Tuti emang masih jualan di kantin.
Sesampainya di kantin, suasananya sangat sepi hanya ada Bu Tuti yang masih berjualan
di kantin sekolah. Rey pun langsung duduk di meja tepat di tengah-tengah,
karena tak ada seorang siswa pun di kantin tersebut.
“Bu, mie baksonya satu kayak biasa ya.”
Pesan Rey.
“Iya.” Jawab Bu Tuti sambil menyiapkan
pesanan Rey.
Rey pun sibuk
memencet tuts HP-nya, mencoba terus menghubungi orangtuanya. Namun tetap saja
tak ada jawaban. “Ayah kemana sih sampe
jam segini belum jemput-jemput juga. Bunda juga daritadi di telfon sibuk terus.”
Batin Rey dengan wajah cemberut.
“Tumben dik Reyna,
jam segini belum dijemput?” tanya Bu Tuti sambil menaruh mie bakso pesanan Rey
di depannya.
“Iya nih Bu,
nggak tau tuh kenapa Ayah belum jemput udah jam segini.” Jawab Rey dengan
tampang lesu sambil mengaduk mie baksonya.
Tiba-tiba saja
suasana kantin mulai ramai. Segerombolan siswa kelas 3 IPA 3 termasuk Radit memasuki kantin Bu Tuti dan duduk tak jauh dari tempat Rey. Namun Rey
tak mempedulikannya, karena dia sibuk menghubungi Ayahnya sambil menyantap mie
baksonya.
“Sssttt. Liat
deh, siapa tuh cewek?” tanya Vino teman sekelas Radit sambil menunjukkan ke
arah Rey.
Radit dan
teman-temannya yang lain pun menoleh ke arah yang ditunjuk oleh Vino.
“Loh Rey?! Belum
pulang?” tiba-tiba tanya Radit dari jauh pada Rey yang sedang mengaduk mienya.
Rey pun menoleh.
“Belum kak, Ayah belum jemput.” Balas Rey
“Tumben dijemputnya
lama?”
“Nggak tau nih
kak. Macet kali karena hujan.”
“Ikut gabung sini
aja Rey. Daripada sendirian.” Kata Radit sambil tersenyum.
“Nggak usah deh
kak, makasih. Rey disini aja.” Balas Rey tersenyum dan kembali untuk menyantap
mienya.
“Siapa tuh Dit?
Kok loe
kenal sih?” tanya Vino sambil meminum capucinonya.
“Jelas gue
kenal lah,
rumahnya satu kompleks sama gue.” Balas Radit sambil mengaduk minumannya.
“Cakep juga tuh
Dit. Nggak berrniat kenalin sama gue Dit?” Tanya Vino tersenyum.
“Kalo
dikenalin sama loe mah yang ada kasian anak orang.” Kata salah satu temannya
“Iya bener. Kalo loe mah
mana pernah serius deketin cewek, yang ada loe mainin semua.” Kata
temannya yang lain.
“Enak aja. Itu
mah bukan mainin namanya bro tapi penjajakan untuk mendapat yang terbaik
nantinya.” Balas Vino tersenyum pada teman-temannya.
“Ah ngeles aja loe.” Kata
teman yang satunya.
“Udah-udah, apaan
sih kalian nih. Ribut aja. Lagian nggak mungkin gue kenalin si
Rey sama loe Vin. Dia tuh cewek baik-baik jadi nggak cocok sama loe.”
Kata Radit yang menyindir Vino.
“Bener banget tuh
omongan loe
Dit.” Kata salah satu temannya sambil ngakak.
Vino hanya
mendengar sindiran teman-temannya. Ya.. Vino memang terkenal playboy di Global Bilingual School. Karena ia
keseringan gonta-ganti pacar.
“Heii.. ke kantin
nggak ngajak-ngajak. Maen tinggalin gue aja sendiri tadi.” Kata
Aliff yang tiba-tiba datang menghampiri teman-temannya.
“Kalian kenapa?
Kok pada ngakak gitu sih?” tanya Aliff sambil duduk di depan Radit.
“Itu Liff, si
Vino minta dikenalin sama cewek yang rumahnya deket sama rumah Radit.” balas
temannya.
“Cewek yang mana
yang deket rumah Radit?” tanya Aliff ingin tau.
“Itu Liff, cewek
yang lagi duduk sendirian di sana tuh.” jawab salah satu temannya sambil
menunjukkan ke arah Rey.
Aliff pun mulai
melihat dan menyadari bahwa itu adalah Rey, adik kelas yang memarahinya tadi
siang di tangga.
“Emang rumahnya dekat
sama rumah loe Dit?” tanya Aliff ingin tau.
“Iya Liff. Bukan
dekat lagi, emang di depan rumah gue.” Jelas Radit.
“Halo, Yah. Akhirnya
Ayah angkat juga telepon Rey. Ayah kemana aja sih kok daritadi Rerey telepon
nggak diangkat-angkat. Ayah nggak lupa buat jemput Rey di sekolah kan?” tiba-tiba Rey berbicara dengan Ayahnya
lewat HP-nya dengan nada sedikit khawatir.
“…ooh, kirain kenapa
Ayah nggak datang-datang buat jemput Rey. Yaudah kalo gitu Rey pulang naik
taksi aja ya Yah. Sayang Ayah juga sih lagi banyak kerjaan di Kantor.”
“… nggak papa kok
Yah. Ayah tenang aja, Rey nggak kan kenapa-napa kok, Rey bisa jaga diri. Lagian kalo ada
papa, Rey pasti hubungin Ayah kok nanti. Rey pulang naik taksi aja ya?” kata
Rey meyakinkan Ayahnya.
“Nampaknya dia
nggak dijemput tuh Dit. Nggak berniat nganterin?” tanya salah satu temannya.
“Tadinya emang gue mau
nganterin, tapi nggak tau nawarinnya gimana. Tapi sekarang gue
emang disuruh pulang bareng dia kayaknya.” Jawab Radit tersenyum.
“Drama loe Dit. Bilang aja loe ciut ngajak dia pulang bareng. Kayak gue
dong. Gentle sama cewek.” Balas Vino
sambil tertawa kecil.
Ternyata Radit udah kenal sedekat itu sama
Rey. Rumah mereka juga deket. Tapi kenapa gue nggak pernah liat Rey waktu ke rumahnya
Radit ya. Di sekolah pun gue jarang liat Rey. Bahkan Rey
ngomong sama Radit pun gue nggak pernah liat. Apa karena
kemarin-kemarin gue nggak terlalu perhatiin ya? ditambah
lagi sebelum liburan gue nggak masuk seminggu karena jagain
nyokap di rumah sakit. Tapi kenapa sekarang tiba-tiba Rey muncul dan kenapa gue jadi penasaran
sama dia. Batin
Aliff bertanya-tanya dengan wajah agak bingung.
“Loe
kenapa Liff?” Tanya Radit yang menyadarkan lamunan Aliff.
“Nggak
kenapa-napa kok Dit.” Balas Aliff tersenyum kecil.
“Eh, bentar ya.”
Kata Radit sambil beranjak dari tempat duduknya dan mendekati Rey.
Aliff melihat
Radit yang duduk di depan Rey sekarang, kemudian wajahnya merunduk kembali
sambil meminum minumannya.
“Hai Rey, belum
dijemput juga?” tanya Radit yang manghampiri Rey.
“Eh, kak Radit.
Ngapain kak jam segini masih di sekolah?”
“Loh kok malah
tanya balik sih Rey. Jawab dulu dong pertanyaan kakak barusan. Kok kamu belum
pulang udah jam segini? Nggak dijemput?” tanya Radit kembali.
“Ayah katanya
lagi sibuk banget di kantornya kak, banyak kerjaan. Jadi nggak sempat jemput deh.” Jawab Rey sambil meminum teh hangatnya.
“Yaudah pulang
bareng kakak aja Rey. Rumah kita kan deket, deket banget malah. Gimana?”
tanya Radit menawarkan.
“Nggak usah deh kak, makasih. Rey pulang naik taksi
aja”. Jawab Rey lembut sambil tersenyum.
“Yakin? Rumah kita kan dekatan
jadi apa salahnya kalo kita pulang bareng?” tanya Radit kembali.
“Nggak usah deh kak Radit, makasih. Rey
pulang naik taksi aja kak. Sekali lagi makasih ya kak.” Balas Rey sambil
tersenyum dan beranjak pergi dari hadapan Radit meninggalkan kantin.
“Kenapa Dit? Ditolak mentah-mentah ya?”
kata Vino dari tempat
duduknya sambil nyengir.
“Namanya juga usaha bro. Lagipun Rey tuh
bukan cewek sembarangan kali,
walaupun rumah kita deketan tapi gue ngomong sama dia ya gitu-gitu aja.” Jawab
Radit sampbil menghampiri teman-temannya kembali.
Tapi
kok sama aku Reyna jutek banget ya. Apa karena dia udah kenal sama Radit
sedangkan sama aku belum makanya dia gitu? Apa karena aku juga tadi yang salah? Batin Radit.
***
to be continued..

Tidak ada komentar:
Posting Komentar