Sabtu, 06 Juni 2015

Could it be (LOVE)





…”Lagi nunggu temennya ya?” tiba-tiba tanya seorang cowok yang berdiri tepat di depan Jihan yang sedang duduk di depan kelas D.
Well.. Jihan adalah salah satu mahasiswa baru di salah satu Universitas Negeri di tempat Ia tinggal yang termasuk salah satu Universitas terbaik di Indonesia. Tepatnya Ia lulus di Economic Faculty jurusan Building Economic. Hari ini Jihan pergi ke Economic Faculty bukanlah karena sudah mulai masuk  kuliah melainkan adanya jadwal MATRIKULASI bagi mahasiswa baru yang di laksanakan  selama satu bulan, dan hari ini baru memasuki minggu kedua. Dalam kelas matrikulasi semua jurusan dijadikan satu, seperti Ekonomi Pembangunan, Akuntansi dan Manajemen semuanya satu kelas.
“Iya.” Jawab Jihan singkat sambil menganggukkan kepalanya.
“Lulus dimana?” tanya cowok itu lagi sambil memegang handphone-nya.
“Ekonomi.” Balas Jihan singkat.
“Iya tau Ekonomi, kita kan satu kelas. Maksudnya lulus dijurusan apa?”
“Hmm..EKP, namanya siapa sih? Jurusan apa?”
“Fathan, jurusan manajemen. Jihan asal sini ya?” kembali cowok itu menanyakan.
“Iya, sekolah disini tapi lahirnya nggak disini.”
“SMPnya?”
“Dari SD udah tinggal disini. Kamu asal mana?”
“Oo.. Fathan dari daerah sebelah utara sana.” Jawab Fathan sambil tersenyum.
“Hmm...” Balas Jihan sambil tersenyum kecil.

“Boleh minta no handphone-nya nggak?” tanya Fathan.
“Hh? Buat?” tanya Jihan dengan tampang sedikit bingung.
“Yaa.. Han kan anak sini. Siapa tau bisa nanya-nanya jalan nanti.” Kata Fathan sambil tersenyum.
Akhirnya percakapan mereka pun berlangsung sampai suasana kampus pun mulai ramai oleh mahasiswa baru lainnya yang baru keluar dari kelas mereka masing-masing.
***
Suatu sore..
Saat Jihan sedang jalan-jalan sore bersama temannya, tiba-tiba handphone-nya pun berbunyi. Jihan langsung mengambil handphone-nya di saku jeansnya. Saat Ia buka, 1 messagge dengan nomor yang tak dikenalnya. Saat Ia mulai membaca, tertulis isi pesannya ini nomor Fathan ya han.., Jihan pun membacanya sambil tersenyum dan berkata pada dirinya sendiri “modus”, kemudian langsung membalas singkat pesan dari Fathan tersebut.
Detik ke detik, menit ke menit, dan dari hari ke hari. Sebuah kedekatan antara Fathan dan Jihan pun semakin tampak jelas meskipun berawal dengan “modus”. Mereka tampak akrab belakangan ini, tak hanya lewat sebuah sms namun di kampus mereka juga tampak akrab daripada sebelumnya.
Hari terakhir Matrikulasi pun tiba. Semua mahasiswa baru tampak lega terlihat dari wajah-wajah mereka. Apalagi yang anak rantau pastinya ingin cepat-cepat pulang bertemu keluarganya yang sudah sebulan tak mereka temui. Termasuk Fathan yang juga salah satu anak rantau.
Parkiran FE-11.30 WIB..
Jihan yang keluar dari kelas bersama teman-temannya pun berpisah antara jalan menuju gerbang dan parkiran. Teman-temannya yang pulang dijemput menuju ke pintu gerbang FE sedangkan Jihan menuju ke parkiran sendirian karena Ia membawa kendaraan.
“Daaghh..daaghh, Han!” kata teman-teman Jihan bersamaan sambil terus berjalan menuju gerbang. Jihan pun hanya melambaikan tangannya pada teman-temannya.
“Daaghh..daaghh!” tiba-tiba kata seorang cowok yang ada di belakang Jihan. Jihan pun menoleh ke belakang dan ternyata cowok itu adalah Gilang teman sekelas Matrikulasinya. Gilang pun tersenyum pada Jihan saat Jihan menoleh kepadanya.
Saat Jihan hendak mengeluarkan kendaraannya dari parkiran, ada Gilang di ujung parkiran yang sedang ingin mengeluarkan kendaraannya juga. Namun sesampai Jihan di ujung parkiran, kendaraannya pun agak susah keluar karena ada kendaraannya Gilang. Akhirnya Gilang memindahkan kendaraannya terlebih dahulu dan saat Jihan hendak keluar dari parkiran..
“Daagghhh Jihan!” kata Gilang lagi sambil tertawa kecil. Jihan pun hanya tersenyum mendengar perkataan Gilang tersebut.
“Hati-hati ya Han!.” Kata Gilang lagi saat Jihan sudah keluar dari parkiran dan hendak menuju gerbang.
Jihan pun hanya tersenyum geli sendiri mendengar Gilang yang tiba-tiba berkata seperti itu kepadanya, namun Ia tak memperdulikannya dan langsung menuju ke pintu gerbang.
***
Sabtu, 16 Juli 2011-20.00 WIB…
Tiba-tiba saat Jihan sedang merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur, handphone-nya yang ada didekatnya pun berbunyi tanda panggilan masuk. Jihan langsung beranjak dari tempat tidurnya dan langsung mengangkat teleponnya.
“Halo.” Kata Jihan sambil duduk di atas tempat tidurnya.
“Han, Fathan di depan rumah kamu nih.”
“Hah! Di depan rumah? Ngapain?” tanya Jihan kaget sambil menuju ke jendela kamarnya.
“Ada yang mau Fathan sampein sama Han nih. Boleh keluar sebentar nggak, Han?”
“Tapi kok malam-malam sih Tan? Penting banget emang yang mau disampein?” tanya Jihan sedikit bingung sambil berdiri di depan jendela kamarnya dan mengintip keluar.
Penting banget, Han. Boleh nggak Jihan keluar sebentar aja buat temuin Fathan?”
“Hmm.. oke deh. Tunggu ya.” Balas Jihan sambil menutup teleponnya dan langsung keluar dari kamarnya menuju ke pintu depan.
Jihan pun membuka pagar rumahnya dan menghampiri Fathan.
“Masuk aja yuk, Tan?” ajak Jihan.
“Nggak usah deh, Han. Fathan ngomong disini aja.” Balas Fathan sambil turun dari motornya.
“Yakin nih?” tanya Jihan meyakinkan.
“Han..” kata Fathan pelan.
Tiba-tiba suasana menjadi hening, dingin dan sunyi. Tak ada suara apapun selain suara Fathan barusan. Daerah perumahan Jihan memang terbilang sepi, karena penduduknya didalam rumah masing-masing apalagi agak jauh dari jalan raya.
“Han…” kata Fathan lagi sambil memegang kedua tangan Jihan.
Suasana pun seakan di Kutub Utara. Dinginnn! Jihan pun tampak bingung dan terlintas grogi di wajahnya. Ditambah lagi suara hembusan angin di balik pepohonan membuat hati Jihan seakan beku rasanya.
“Han, Fathan mau bilang sesuatu sama Han. Fathan sayang sama Han. Awalnya Fathan memang suka liat Han karena Han cewek yang manis. Tapi setelah Fathan lebih kenal sama Han, lebih tau sosok Han, lebih akrab sama Han. Jujur, Fathan nggak bisa bohongin perasaan Fathan sendiri kalo sebenarnya Fathan sayang dan cinta sama Han..”
“Tapi…” tiba-tiba Jihan memotong omongan Fathan.
“sstt..” kata Fathan sambil menjulurkan telunjuknya di bibir Jihan.
“Izinin Fathan ngomong dulu boleh, Han?” tanya Fathan dengan wajah penuh keseriusan.
“hmm..” angguk Jihan.
“Fathan tau mungkin ini terlalu cepat menurut Han, tapi memang ini yang Fathan rasain sekarang. Kenapa Fathan ungkapin malam ini? Karena besok Fathan mau balik ke daerah Fathan sana, Han. Fathan nggak mau ninggalin kota ini dengan perasaan Fathan yang masih nyangkut disini, apalagi kalo di jalan pulang Fathan  nanti kita belum tau apa yang akan terjadi. Fathan juga nggak mau kalo waktu Fathan balik ke sini entar, Han udah jadi milik orang lain tanpa tau perasaan Fathan sebenarnya. Maka dari itu malam ini Fathan ungkapin semuanya sama Han. Fathan pengen Han jadi pacarnya Fathan. Terserah Han mau jawab apa, toh juga itu semua tergantung perasaan Han sama Fathan. Yang penting Fathan udah ungkapin semuanya tentang perasaan Fathan sama Han. Sekarang keputusannya di tangan Han. Han mau nggak jadi pacarnya Fathan?”
Suasana pun semakin lirih terasa. Jihan pun tampak bingung dan tak tau mau jawab apa. Karena semua ini begitu mendadak baginya. Jihan pun mencoba menenangkan dirinya dengan menghela nafasnya untuk mengatakan sesuatu pada Fathan.
“Han sama sekali nggak nyangka kalo malam ini tuh bakal ada seseorang yang ngungkapin perasaannya sama Han, di depan rumah Han pula. Jujur, Han belum bisa baca perasaan Han sama Fathan secepat ini. Han nggak tau apa Han juga udah mulai sayang sama Fathan atau yang Han rasain cuma ilusi perasaan aja. Han minta waktu buat ngeyakinin perasaan Han sendiri, iya?” jelas Jihan sambil melepaskan tangannya dari genggaman Fathan.
“Fathan bakal kasih waktu buat Han ngeyakinin perasaan Han sendiri kok. Fathan juga ngerti kalo ini tuh terlalu cepat mungkin bagi Han. Fathan bakal nunggu Han sampe Han bener-bener yakin kalo Han punya rasa yang sama kayak Fathan. Tapi Fathan nggak mau Han ragu sama apa yang Fathan bilang, Fathan bener-bener sayang sama Han.” Kata Fathan sambil menatap Han penuh dengan keseriusan.
“Yakin mau nunggu sampe Han yakin sama perasaan sendiri? Dan Fathan besok mau pulang ke daerah Fathan, kan?”
“Yakin kok Han. Iya Han. Kenapa?”
“Baliknya kemari lagi kapan?”
“Hhmm.. mungkin sekitaran awal Agustus nanti Han. Kenapa emangnya Han?”
“Oke deh, Han bakal jawab pertanyaan Fathan malam ini, waktu Fathan udah balik lagi kemari, yah? Gimana?” tanya Jihan sambil tersenyum kecil menatap Fathan.
“Oke deh, Han. Fathan bakal nunggu jawaban itu. Apapun jawaban Han nanti Fathan bakal terima kok. Fathan juga yakin, apapun yang akan terjadi ke depannya nanti soal ini semua itu pasti yang terbaik buat kita.” Balas Fathan sambil tersenyum menatap Jihan.
Suasana pun kembali rileks dan penuh suka-cita terlintas diwajah mereka berdua. Waktu pun terus berjalan, dan tak terasa malam semakin larut. Fathan pun beranjak untuk pulang dari rumahnya Jihan, pastinya dengan hati yang lega karena semua perasaannya yang tersimpan telah diungkapkan pada Jihan.
***






Minggu, 17 Juli 2011-20.00 WIB..
HP-Jihan pun berbunyi. Jihan pun mangambil HP-nya dan melihat 1 message dengan nomor yang tak dikenalnya. Setelah dia baca, Jihan pun bingung sambil mengernyitkan dahinya. Dia bingung karena SMS tersebut bertuliskan “Daaagghh Han!”.
“Siapa sih ni orang? Kok SMS aneh gitu ya?” tanya Jihan pada dirinya sendiri.
Karena Jihan yang dihantui rasa penasaran, akhirnya dia pun mengirim SMS Siapa ya? kepada pengirim yang tak dikenalnya itu. Hp-Jihan pun berbunyi tanda pesan masuk. Jihan membacanya daaaggghh…daaaggghh Jihan! Coba ingat siapa? Yang di parkiran! begitu balasan SMS orang aneh tersebut. Jihan pun jadi tambah bingung dan nggak ngerti maksud si pengirim itu apa. Karena kesal, Jihan pun membalasnya Siapa sih! Nggak usah iseng deh. Jihan mencoba berpikir apa maksud dari si pengirim tersebut. Selagi dia mencoba menerka siapa orang aneh tersebut HP-nya pun kembali berbunyi. Kalo emang kamu anggap aku iseng, nggak dibalas juga nggak papa kok! Nggak penting juga buat diinget! begitulah balasan orang aneh itu. Jihan tambah penasaran dan ngerasa agak aneh sama tuh orang. Jihan pun mulai mengetik balasan SMS lagi Siapa sih ni? Maksudnya tuh apa?. Tak lama kemudian balasan SMS pun masuk dari orang itu, Maaf ya kalo mengganggu Han. Ni Gilang. Jihan pun dengan rasa sedikit kaget dan nggak percaya ngebaca balasan SMS tersebut. “Gilang?” tanya Jihan pada dirinya sendiri. Dia baru ‘ngeh’ kalo maksud SMS-nya tuh kata-kata Gilang di parkiran waktu terakhir hari matrikulasi. Jihan pun tersenyum-senyum sendiri mengingat akan hal itu sambil mengetik balasan SMS untuk Gilang, Oo.. Gilang, kirain siapa. Ada apa om?. Kok om? Gilang hee. SMS demi SMS pun berlanjut dan akhirnya Gilang pun pasrah di panggil “Om” oleh Jihan. :D
Gilang memang terbilang orang cepat akrab dengan siapa pun, Dia juga tipe orang yang suka bercanda dan ‘rame’. Jadi siapa pun yang di ajak ngobrol sama Dia pasti bawaannya nggak pernah serius mungkin. Di kelas pun Dia terbilang cowok yang ribut, karena adaa aja yang dibecandain sama Dia. Sekarang Dia SMS Jihan? Nggak tau deh apa visi-misinya tuh!
***


25 Juli 2011-00.05 WIB..
Handphone-Jihan pun tiba-tiba berbunyi tanda SMS masuk. Jihan pun mengambil Handphone-nya di samping kepalanya dengan mata yang setengah terbuka dan dalam keadaan ngantuk. Jihan pun membaca SMS-nya antara sadar dan tidak karena keadaannya yang tampak kantuk. Jihan pun mulai membaca SMS-nya yang dikirimkan sekalian dengan gambar sebuah gitar.
Mudah-mudahan Lang jadi yang pertama..
  .+”””+...--.
( |=====0===,====<<
  ‘+.....+-‘‘’-‘’
Kebetulan Lang punya gitar nih. Nyanyi buat yang lagi ulang tahun ah. Hehe..
Happy birthday to u..happy birthday to u..happy birthday, happy birthday.. happy birthday to uu...
Kayaknya ini udah kemampuan maksimal Lang buat ngucapin ulang tahun untuk Jihan. Yang pastinya Lang doain yang terbaik buat Jihan. Sukses diusia yang makin bertambah yaa. Happy birthday yang ke-17 ya Jihan J.
Lang sayang sama Jihan. Harapan Lang cuma satu, pengen Han bahagia dengan siapapun yang Han pilih nantinya. Udah itu aja J.
Hari ini adalah hari ulang tahunnya Jihan yang ke-17. Yaa.. meski terbilang masih sweet seventeen tapi Dia sudah menduduki bangku perkuliahan karena Dia cepat masuk Sekolah Dasar dulunya.
Jihan yang tadinya masih terbaring dengan mata yang kantuk tiba-tiba bangun dan duduk di atas tempat tidurnya sambil membaca kembali isi SMS dari Gilang tersebut. Ia seakan tak percaya orang yang pertama kali mengucapkan ulang tahun padanya adalah Gilang. Ia sendiri tak pernah bilang soal ulang tahunnya pada Gilang, apa mungkin Gilang taunya dari FB ya?. Entahlah! Yang jelas Jihan kaget menerima SMS tersebut tapi Dia juga senang karena ada orang yang ingat ulang tahunnya apalagi Dia tidak pernah bilang soal ulang tahunnya pada orang tersebut.


Gilang juga baru tau ternyata Jihan juga dekat dengan Fathan teman satu jurusannya sendiri. Jauh lebih dekat,  karena mereka sudah saling mengenal jauh sebelum Gilang mendekati Jihan. Jihan juga menceritakan soal Fathan yang mengungkapkan perasaannya pada dirinya kepada Gilang. Namun Jihan menceritakan itu semua karena Dia sudah menganggap Gilang sebagai teman baiknya dan saat itu pun Jihan tak tau soal perasaan Gilang pada dirinya. Jihan baru tau 2 hari yang lalu saat Gilang menyatakan perasaannya tersebut lewat sebuah surat yang diantarkan oleh Pak pos ke rumahnya. Saat itu Jihan benar-benar bingung akan apa yang terjadi padanya. Dia tak mau menyakiti perasaan siapa pun, tapi Dia juga harus memilih diantara mereka. Karena kalo tidak, berarti Dia telah menyakiti 2 hati sekaligus. Oleh karena itu, Jihan benar-benar meyakinkan dirinya siapa orang yang ada di hatinya saat ini dan Dia berharap keputusan apapun nanti yang diambilnya akan menjadi yang terbaik untuk semuanya.
Jihan pun terdiam sejenak. Dia mulai berpikir dan berkata pada dirinya sendiri. Jujur, Han nggak bisa bohongin perasaan Han sendiri kalo Han sebenarnya sayang sama Fathan tapi di sisi lain Gilang jauh lebih respect sama Han. Buktinya aja Dia tau ulang tahun Han yang sama sekali Han nggak pernah bilang soal itu, sedangkan Fathan yang udah lama dekat sama Han nggak tau soal itu. Apa karena memang Fathan tipe cowok yang cuek? Tapii.. kalo di pikir-pikir lagi. Kayaknya Han ada deh pengalaman Han yang bisa ngejawab karaguan dan kebingungan Han saat ini. Hmm.. dulu waktu Han dekat sama Vino. Han selalu di perhatiin sama Dia, semua tentang Han Dia tau tanpa harus tanya sama Han. Dia selalu ngertiin Han, care sama Han. Sampe-sampe Han dibuat sayang luar biasa sama Dia. Tapi nyatanya apa? Pada akhirnya Han tau ternyata Han cuma dijadiin pelampiasan perasaan Dia sama cewek lain yang nggak bisa Dia dapetin. Salut deh! Dia bisa sepinter itu nutupin semuanya dari Han. Tapi tak apalah, Han anggap itu pelajaran yang tak ternilai buat hidup Han. Bahkan mungkin Han harus bilang makasih sama Vino. Karena Dia, Han bisa jadi cewek yang jauh lebih dewasa dalam menghadapi semua masalah yang ada, sekarang ataupun nanti J. Nah sekarang kalo misalkan Fathan nggak begitu care sama Han kayak Gilang, apa Fathan jauh lebih sadis dari Vino? Think and make your heart and then believe your heart said about your thinking Jihan! Kata Jihan pada dirinya sendiri yang mem-flashback kisahnya dimasa lalu.




Fathan sayang sama Han dan Han juga sayang sama Dia tapi di sisi lain juga ada Gilang yang sayang sama Han. Huff! Kata Jihan pada dirinya sendiri sambil menghela nafasnya. Ya Ampun, jujur Han nggak mau nyakitin siapa pun tapi Han akan nyakitin semuanya kalo Han nggak memilih diantara mereka. Oke Jihan! Tentukan pilihanmu sekarang agar nantinya tak terbeban dan semakin membuat Gilang terus menunggu ketidakpastian ini. Okey FINE! Kata Jihan pada dirinya sambil beranjak dari tempat tidurnya dan mondar-mandir di depan tempat tidurnya. Fathan sayang sama Han dan Han juga sayang sama Fathan. Berarti Han harus milih Fathan. Gilang memang cowok yang baik, tapi Han anggap Dia temen baik Han, nggak lebih dari itu. Maafin Jihan ya Lang, Han sama sekali nggak bermaksud buat nyakitin Gilang. Kata Jihan pada dirinya sendiri dengan wajah bersalah sambil duduk di ujung tempat tidurnya.
Jihan pun memutuskan untuk tidur kembali setelah memikirkan dan memutuskan apa yang harus Dia lakukan nantinya. Berarti Han harus yakin sama keputusan yang Han ambil dan berharap jadi yang terbaik nantinya. Han juga harus ngejelasin semuanya sama mereka soal keputusan Han ini supaya nggak ada kesalahpahaman dan semuanya saling ngerti, jadi nggak ada yang tersakiti ataupun jadi benci. Batin Jihan yang meyakinkan dirinya. Jihan pun mematikan lampu kamarnya dan menarik selimut sampai menutupi wajahnya.
***
6 Agustus 2011-11:30 WIB
Kriinggg..kriinggg.. !
Tiba-tiba hanphone Jihan bordering mengagetkan Jihan yang sedang asyik nonton serial ftv.
“halo.” Jihan menjawab telepon sambil mengecilkan suara televisi.
“halo han, ni aku Fathan. Kamu lagi apa?” Tanya Fathan dengan nada lembut.
“Fathan?” Tanya Jihan dengan nada kaget bercampur bingung.
“iya, ini aku Fathan. Kamu masih ingat kan?”
“masih kok tan. Ada apa? Kok tumben nih telfon?” Tanya Jihan dengan suara yang masih bingung.
“jadi gak boleh nih aku telfon?” balas Fathan dengan nada bercanda.
“boleh kok. Fathan lagi dimana? Udah balik ke Bandung?”
“ni Fathan lagi di perjalanan han, kenapa? Kamu kangen ya?” canda Fathan sambil tertawa kecil.
“ihh apa sih kamu nih k GR-an aja.” Balas Jihan sambil tersenyum kecil.
“Han. Jihan masih ingat sama janji Jihan waktu itu sebelum Fathan pulang kan?”
“hhmm.. masih Tan. Harus jawab sekarang ya?” Tanya Jihan dengan nada semakin bingung.
“gak harus sekarang kok han. Tapi nanti mungkin sekitaran jam 2 Fathan udah nyampek di Bandung. Kalo sorenya Fathan minta jawaban dari han, gimana?” Tanya Fathan memastikan.
“sore ya? Oke Tan nanti sore han jawab.” Jawab Han dengan nada rendah.
“nanti sore jam 5 kita ketemuan di Taman deket rumah kamu aja ya Han?”
“ketemuan? Di taman?” Tanya Jihan kaget.
“Iya nanti sore kita ketemuan, kan Fathan mau dengar jawaban dari kamu.” Balas Fathan dengan nada lembut.
“Oh.. oke deh Tan. Sampe ketemu nanti sore ya. Daahgg.” Balas Jihan yang langsung menutup telfonnya.
“Ya ampunn.. gimana nih. Kok bulan agustus cepet banget sih sampek gak kepikiran nih jawabannya bakal Fathan minta dengan cara ketemuan. Gimana ya nanti jawabnya. Aduhh..” kata Jihan pada dirinya sendiri sambil mondar mandir pegangin hanphonenya.

At 17:00 WIB-Taman Bunga Cihideung
Dari jauh tampak Fathan dengan wajah menantinya sedang duduk di bangku taman. Fathan mengenakan jaket semi-kulit berwarna coklat dengan baju kaos putih didalamnya yang senada dengan jeans berwarna coklat yang dikenakannya dan sepatu putih bertali.
“hai Tan.” Sapa Jihan yang tiba-tiba datang dari arah samping kiri Fathan.
“hai Han.” Balas Fathan tersenyum sambil beranjak dari duduknya.
“kamu udah lama? Sory ya lama.” Kata Jihan sambil memegang tas selempang kecilnya.
“nggak kok Han, Fathan juga baru aja nih.” Balas Fathan tersenyum.
“boleh duduk?” Tanya Jihan sambil tersenyum dengan maksud bercanda.
“tentu.” Jawab Fathan sambil menggaruk kepalanya karena salah tingkah.
“nggak terasa udah bulan Agustus aja, ya. Gimana di sana, Tan? Asikan mana sama di sini?” Tanya Jihan mengulur waktu.
“di sana sih asik tapi kurang asik karena nggak ada kamu.” Jawab Fathan sambil tersenyum menatap Jihan.
“udah pande ngegombal ya kamu.” Balas Jihan sambil membalas senyuman pada Fathan.
Fathan pun hanya membalas dengan senyuman malu-malu pada Jihan.
“oh, ya Tan. Soal jawaban itu. Kalo misalkan Jihan jawabnya ‘nggak’, kamu masih tetep mau temenan sama Jihan kan?” Tanya Jihan dengan tampang serius.
“hhmm..pastilah Han. Fathan bakal terima apapun jawaban kamu dan Fathan juga bakal tetep jadi temen kamu kok.” Jawab Fathan dengan senyum kecil di wajahnya.
“Kalo gitu, Jihan minta maaf ya Tan. Jihan nggak bisa.” Kata Jihan dengan tampang nggak enakan pada Fathan.
“nggak pa-pa kok, Han. Fathan ngerti mungkin Fathan terlalu cepat punya perasaan ini sama Jihan tapi kalo boleh jujur, Fathan beneran jatuh cinta sama Han waktu kita satu kelas matrikulasi. Apalagi setelah Fathan mulai kenal sama Han, perasaan itu semakin menjadi-jadi. Maaf ya Han kalo Fathan terlalu cepat ngungkapin perasaan ini.” Kata Fathan sambil tersenyum kecil menahan perih.
“Han juga minta maaf, Tan. Maafin Jihan ya karena Jihan sebenarnya emang nggak maksud buat nggak terima kamu.” Balas Jihan sambil tersenyum menatap wajah Fathan.
“jadi?” Tanya Fathan sambil tersenyum namun wajahnya bingung.
“iya, Tan. Jihan juga punya perasaan yang sama ama Fathan, jadi Jihan nggak bisa kalo nggak terima kamu.” Jawab Jihan sambil tersenyum.
Fathan pun tak bisa menyembunyikan kesenangannya karena ternyata Jihan memiliki rasa yang sama terhadap dirinya. Fathan berharap Jihan menjadi cinta terakhirnya karena Fathan menyukai Jihan bukan hanya karena wajahnya yang manis tapi juga pribadinya yang menyenangkan dan baik.
~~~










Tidak ada komentar:

Posting Komentar