…”Lagi nunggu
temennya ya?” tiba-tiba tanya seorang cowok yang berdiri tepat di depan Jihan
yang sedang duduk di depan kelas D.
Well.. Jihan adalah
salah satu mahasiswa baru di salah satu Universitas Negeri di tempat Ia tinggal
yang termasuk salah satu Universitas terbaik di Indonesia. Tepatnya Ia lulus di
Economic Faculty jurusan Building Economic. Hari ini Jihan pergi ke Economic
Faculty bukanlah karena sudah mulai masuk kuliah melainkan adanya jadwal MATRIKULASI
bagi mahasiswa baru yang di laksanakan
selama satu bulan, dan hari
ini baru memasuki minggu kedua. Dalam kelas matrikulasi semua jurusan dijadikan
satu, seperti Ekonomi Pembangunan, Akuntansi dan Manajemen semuanya satu kelas.
“Iya.” Jawab Jihan singkat
sambil menganggukkan kepalanya.
“Lulus dimana?” tanya cowok
itu lagi sambil memegang handphone-nya.
“Ekonomi.” Balas Jihan
singkat.
“Iya tau Ekonomi, kita kan
satu kelas. Maksudnya lulus dijurusan apa?”
“Hmm..EKP, namanya siapa sih?
Jurusan apa?”
“Fathan, jurusan manajemen.
Jihan asal sini ya?” kembali cowok itu menanyakan.
“Iya, sekolah disini tapi
lahirnya nggak disini.”
“SMPnya?”
“Dari SD udah tinggal disini.
Kamu asal mana?”
“Oo.. Fathan dari daerah
sebelah utara sana.” Jawab Fathan sambil tersenyum.
“Hmm...” Balas Jihan sambil
tersenyum kecil.
“Boleh minta no handphone-nya
nggak?” tanya Fathan.
“Hh? Buat?” tanya Jihan
dengan tampang sedikit bingung.
“Yaa.. Han kan anak sini.
Siapa tau bisa nanya-nanya jalan nanti.” Kata Fathan sambil tersenyum.
Akhirnya percakapan mereka
pun berlangsung sampai suasana kampus pun mulai ramai oleh mahasiswa baru
lainnya yang baru keluar dari kelas mereka masing-masing.
***
Suatu sore..
Saat Jihan sedang jalan-jalan
sore bersama temannya, tiba-tiba handphone-nya pun berbunyi. Jihan langsung
mengambil handphone-nya di saku jeansnya. Saat Ia buka, 1 messagge dengan nomor
yang tak dikenalnya. Saat Ia mulai membaca, tertulis isi pesannya ini nomor
Fathan ya han.., Jihan pun membacanya sambil tersenyum dan
berkata pada dirinya sendiri “modus”, kemudian langsung membalas singkat pesan dari Fathan tersebut.
Detik ke detik, menit ke
menit, dan dari hari ke hari. Sebuah kedekatan antara Fathan dan Jihan pun
semakin tampak jelas meskipun berawal dengan “modus”. Mereka tampak akrab belakangan ini, tak hanya
lewat sebuah sms namun di kampus mereka juga tampak akrab daripada sebelumnya.
Hari terakhir Matrikulasi pun
tiba. Semua mahasiswa baru tampak lega terlihat dari wajah-wajah mereka.
Apalagi yang anak rantau pastinya ingin cepat-cepat pulang bertemu keluarganya
yang sudah sebulan tak mereka temui. Termasuk Fathan yang juga salah satu anak
rantau.
Parkiran FE-11.30
WIB..
Jihan yang keluar
dari kelas bersama teman-temannya pun berpisah antara jalan menuju gerbang dan
parkiran. Teman-temannya yang pulang dijemput menuju ke pintu gerbang FE
sedangkan Jihan menuju ke parkiran sendirian karena Ia membawa kendaraan.
“Daaghh..daaghh,
Han!” kata teman-teman Jihan bersamaan sambil terus berjalan menuju gerbang.
Jihan pun hanya melambaikan tangannya pada teman-temannya.
“Daaghh..daaghh!”
tiba-tiba kata seorang cowok yang ada di belakang Jihan. Jihan pun menoleh ke
belakang dan ternyata cowok itu adalah Gilang teman sekelas Matrikulasinya.
Gilang pun tersenyum pada Jihan saat Jihan menoleh kepadanya.
Saat Jihan hendak
mengeluarkan kendaraannya dari parkiran, ada Gilang di ujung parkiran yang
sedang ingin mengeluarkan kendaraannya juga. Namun sesampai Jihan di ujung
parkiran, kendaraannya pun agak susah keluar karena ada kendaraannya Gilang.
Akhirnya Gilang memindahkan kendaraannya terlebih dahulu dan saat Jihan hendak
keluar dari parkiran..
“Daagghhh Jihan!”
kata Gilang lagi sambil tertawa kecil. Jihan pun hanya tersenyum mendengar
perkataan Gilang tersebut.
“Hati-hati ya Han!.”
Kata Gilang lagi saat Jihan sudah keluar dari parkiran dan hendak menuju
gerbang.
Jihan pun hanya
tersenyum geli sendiri mendengar Gilang yang tiba-tiba berkata seperti itu
kepadanya, namun Ia tak memperdulikannya dan langsung menuju ke pintu gerbang.
***
Sabtu, 16 Juli 2011-20.00
WIB…
Tiba-tiba saat Jihan sedang
merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur, handphone-nya yang ada didekatnya pun
berbunyi tanda panggilan masuk. Jihan langsung beranjak dari tempat tidurnya
dan langsung mengangkat teleponnya.
“Halo.” Kata Jihan sambil
duduk di atas tempat tidurnya.
“Han, Fathan di depan rumah
kamu nih.”
“Hah! Di depan rumah?
Ngapain?” tanya Jihan kaget sambil menuju ke jendela kamarnya.
“Ada yang mau Fathan sampein
sama Han nih. Boleh keluar sebentar nggak, Han?”
“Tapi kok malam-malam sih Tan?
Penting banget emang yang mau disampein?” tanya Jihan sedikit bingung sambil berdiri
di depan jendela kamarnya dan mengintip keluar.
“Penting banget, Han. Boleh nggak Jihan
keluar sebentar aja buat temuin Fathan?”
“Hmm.. oke deh. Tunggu ya.”
Balas Jihan sambil menutup teleponnya dan langsung keluar dari kamarnya menuju
ke pintu depan.
Jihan pun membuka pagar
rumahnya dan menghampiri Fathan.
“Masuk aja yuk, Tan?” ajak
Jihan.
“Nggak usah deh, Han. Fathan
ngomong disini aja.” Balas Fathan sambil turun dari motornya.
“Yakin nih?” tanya Jihan
meyakinkan.
“Han..” kata Fathan pelan.
Tiba-tiba suasana menjadi
hening, dingin dan sunyi. Tak ada suara apapun selain suara Fathan barusan.
Daerah perumahan Jihan memang terbilang sepi, karena penduduknya didalam rumah
masing-masing apalagi agak jauh dari jalan raya.
“Han…” kata Fathan lagi
sambil memegang kedua tangan Jihan.
Suasana pun seakan di Kutub
Utara. Dinginnn! Jihan pun tampak bingung dan terlintas grogi di wajahnya.
Ditambah lagi suara hembusan angin di balik pepohonan membuat hati Jihan seakan
beku rasanya.
“Han, Fathan mau bilang
sesuatu sama Han. Fathan sayang sama Han. Awalnya Fathan memang suka liat Han
karena Han cewek yang manis. Tapi setelah Fathan lebih kenal sama Han, lebih
tau sosok Han, lebih akrab sama Han. Jujur, Fathan nggak bisa bohongin perasaan
Fathan sendiri kalo sebenarnya Fathan sayang dan cinta sama Han..”
“Tapi…” tiba-tiba Jihan
memotong omongan Fathan.
“sstt..” kata Fathan sambil
menjulurkan telunjuknya di bibir Jihan.
“Izinin Fathan ngomong dulu
boleh, Han?” tanya Fathan dengan wajah penuh keseriusan.
“hmm..” angguk Jihan.
“Fathan tau mungkin ini
terlalu cepat menurut Han, tapi memang ini yang Fathan rasain sekarang. Kenapa
Fathan ungkapin malam ini? Karena besok Fathan mau balik ke daerah Fathan sana,
Han. Fathan nggak mau ninggalin kota ini dengan perasaan Fathan yang masih
nyangkut disini, apalagi kalo di jalan pulang Fathan nanti kita belum tau apa yang akan terjadi.
Fathan juga nggak mau kalo waktu Fathan balik ke sini entar, Han udah jadi
milik orang lain tanpa tau perasaan Fathan sebenarnya. Maka dari itu malam ini
Fathan ungkapin semuanya sama Han. Fathan pengen Han jadi pacarnya Fathan.
Terserah Han mau jawab apa, toh juga itu semua tergantung perasaan Han sama
Fathan. Yang penting Fathan udah ungkapin semuanya tentang perasaan Fathan sama
Han. Sekarang keputusannya di tangan Han. Han mau nggak jadi pacarnya Fathan?”
Suasana pun semakin lirih
terasa. Jihan pun tampak bingung dan tak tau mau jawab apa. Karena semua ini
begitu mendadak baginya. Jihan pun mencoba menenangkan dirinya dengan menghela
nafasnya untuk mengatakan sesuatu pada Fathan.
“Han sama sekali nggak
nyangka kalo malam ini tuh bakal ada seseorang yang ngungkapin perasaannya sama
Han, di depan rumah Han pula. Jujur, Han belum bisa baca perasaan Han sama Fathan
secepat ini. Han nggak tau apa Han juga udah mulai sayang sama Fathan atau yang
Han rasain cuma ilusi perasaan aja. Han minta waktu buat ngeyakinin perasaan
Han sendiri, iya?” jelas Jihan sambil melepaskan tangannya dari genggaman
Fathan.
“Fathan bakal kasih waktu
buat Han ngeyakinin perasaan Han sendiri kok. Fathan juga ngerti kalo ini tuh
terlalu cepat mungkin bagi Han. Fathan bakal nunggu Han sampe Han bener-bener
yakin kalo Han punya rasa yang sama kayak Fathan. Tapi Fathan nggak mau Han
ragu sama apa yang Fathan bilang, Fathan bener-bener sayang sama Han.” Kata
Fathan sambil menatap Han penuh dengan keseriusan.
“Yakin mau nunggu sampe Han
yakin sama perasaan sendiri? Dan Fathan besok mau pulang ke daerah Fathan, kan?”
“Yakin kok Han. Iya Han. Kenapa?”
“Baliknya kemari lagi kapan?”
“Hhmm.. mungkin sekitaran
awal Agustus nanti Han. Kenapa emangnya Han?”
“Oke deh, Han bakal jawab
pertanyaan Fathan malam ini, waktu Fathan udah balik lagi kemari, yah? Gimana?”
tanya Jihan sambil tersenyum kecil menatap Fathan.
“Oke deh, Han. Fathan bakal
nunggu jawaban itu. Apapun jawaban Han nanti Fathan bakal terima kok. Fathan
juga yakin, apapun yang akan terjadi ke depannya nanti soal ini semua itu pasti
yang terbaik buat kita.” Balas Fathan sambil tersenyum menatap Jihan.
Suasana pun kembali rileks
dan penuh suka-cita terlintas diwajah mereka berdua. Waktu pun terus berjalan,
dan tak terasa malam semakin larut. Fathan pun beranjak untuk pulang dari
rumahnya Jihan, pastinya dengan hati yang lega karena semua perasaannya yang
tersimpan telah diungkapkan pada Jihan.
***
Minggu, 17 Juli 2011-20.00
WIB..
HP-Jihan pun
berbunyi. Jihan pun mangambil HP-nya dan melihat 1 message dengan nomor yang
tak dikenalnya. Setelah dia baca, Jihan pun bingung sambil mengernyitkan
dahinya. Dia bingung karena SMS tersebut bertuliskan “Daaagghh Han!”.
“Siapa sih ni orang?
Kok SMS aneh gitu ya?” tanya Jihan pada dirinya sendiri.
Karena Jihan yang
dihantui rasa penasaran, akhirnya dia pun mengirim SMS Siapa ya? kepada
pengirim yang tak dikenalnya itu. Hp-Jihan pun berbunyi tanda pesan masuk. Jihan
membacanya daaaggghh…daaaggghh Jihan! Coba
ingat siapa? Yang di parkiran! begitu balasan
SMS orang aneh tersebut. Jihan pun jadi tambah bingung dan nggak ngerti maksud
si pengirim itu apa. Karena kesal, Jihan pun membalasnya Siapa sih!
Nggak usah iseng deh.
Jihan mencoba berpikir apa maksud dari si pengirim tersebut. Selagi dia mencoba
menerka siapa orang aneh tersebut HP-nya pun kembali berbunyi. Kalo emang kamu anggap aku iseng, nggak dibalas juga
nggak papa kok! Nggak penting juga buat diinget!
begitulah balasan orang aneh itu. Jihan tambah penasaran dan ngerasa agak aneh
sama tuh orang. Jihan pun mulai mengetik balasan SMS lagi Siapa sih ni?
Maksudnya tuh apa?. Tak lama kemudian balasan SMS pun
masuk dari orang itu, Maaf ya kalo
mengganggu Han. Ni Gilang. Jihan pun dengan
rasa sedikit kaget dan nggak percaya ngebaca balasan SMS tersebut. “Gilang?”
tanya Jihan pada dirinya sendiri. Dia baru ‘ngeh’ kalo maksud SMS-nya tuh
kata-kata Gilang di parkiran waktu terakhir hari matrikulasi. Jihan pun
tersenyum-senyum sendiri mengingat akan hal itu sambil mengetik balasan SMS
untuk Gilang, Oo.. Gilang, kirain siapa. Ada apa om?. Kok om? Gilang hee. SMS demi SMS pun berlanjut dan akhirnya Gilang pun pasrah
di panggil “Om” oleh Jihan. :D
Gilang memang
terbilang orang cepat akrab dengan siapa pun, Dia juga tipe orang yang suka
bercanda dan ‘rame’. Jadi siapa pun yang di ajak ngobrol sama Dia pasti
bawaannya nggak pernah serius mungkin. Di kelas pun Dia terbilang cowok yang
ribut, karena adaa aja yang dibecandain sama Dia. Sekarang Dia SMS Jihan? Nggak
tau deh apa visi-misinya tuh!
***
25 Juli 2011-00.05
WIB..
Handphone-Jihan pun
tiba-tiba berbunyi tanda SMS masuk. Jihan pun mengambil Handphone-nya di
samping kepalanya dengan mata yang setengah terbuka dan dalam keadaan ngantuk.
Jihan pun membaca SMS-nya antara sadar dan tidak karena keadaannya yang tampak
kantuk. Jihan pun mulai membaca SMS-nya yang dikirimkan sekalian dengan gambar
sebuah gitar.
Mudah-mudahan
Lang jadi yang pertama..
.+”””+...--.
( |=====0===,====<<
‘+.....+-‘‘’-‘’
Kebetulan Lang
punya gitar nih. Nyanyi buat yang lagi ulang tahun ah. Hehe..
Happy birthday
to u..happy birthday to u..happy birthday, happy birthday.. happy birthday to
uu...
Kayaknya
ini udah kemampuan maksimal Lang buat ngucapin ulang tahun untuk Jihan. Yang
pastinya Lang doain yang terbaik buat Jihan. Sukses diusia yang makin bertambah
yaa. Happy birthday yang ke-17 ya Jihan J.
Lang sayang
sama Jihan. Harapan Lang cuma satu, pengen Han bahagia dengan siapapun yang Han
pilih nantinya. Udah itu aja J.
Hari ini adalah hari
ulang tahunnya Jihan yang ke-17. Yaa.. meski terbilang masih sweet seventeen
tapi Dia sudah menduduki bangku perkuliahan karena Dia cepat masuk Sekolah
Dasar dulunya.
Jihan yang tadinya
masih terbaring dengan mata yang kantuk tiba-tiba bangun dan duduk di atas
tempat tidurnya sambil membaca kembali isi SMS dari Gilang tersebut. Ia seakan
tak percaya orang yang pertama kali mengucapkan ulang tahun padanya adalah
Gilang. Ia sendiri tak pernah bilang soal ulang tahunnya pada Gilang, apa mungkin
Gilang taunya dari FB ya?. Entahlah! Yang jelas Jihan kaget menerima SMS
tersebut tapi Dia juga senang karena ada orang yang ingat ulang tahunnya
apalagi Dia tidak pernah bilang soal ulang tahunnya pada orang tersebut.
Gilang juga baru tau
ternyata Jihan juga dekat dengan Fathan teman satu jurusannya sendiri. Jauh
lebih dekat, karena mereka sudah saling
mengenal jauh sebelum Gilang mendekati Jihan. Jihan juga menceritakan soal
Fathan yang mengungkapkan perasaannya pada dirinya kepada Gilang. Namun Jihan
menceritakan itu semua karena Dia sudah menganggap Gilang sebagai teman baiknya
dan saat itu pun Jihan tak tau soal perasaan Gilang pada dirinya. Jihan baru
tau 2 hari yang lalu saat Gilang menyatakan perasaannya tersebut lewat sebuah
surat yang diantarkan oleh Pak pos ke rumahnya. Saat itu Jihan benar-benar
bingung akan apa yang terjadi padanya. Dia tak mau menyakiti perasaan siapa
pun, tapi Dia juga harus memilih diantara mereka. Karena kalo tidak, berarti
Dia telah menyakiti 2 hati sekaligus. Oleh karena itu, Jihan benar-benar
meyakinkan dirinya siapa orang yang ada di hatinya saat ini dan Dia berharap
keputusan apapun nanti yang diambilnya akan menjadi yang terbaik untuk
semuanya.
Jihan pun terdiam
sejenak. Dia mulai berpikir dan berkata pada dirinya sendiri. Jujur, Han nggak bisa bohongin perasaan Han
sendiri kalo Han sebenarnya sayang sama Fathan tapi di sisi lain Gilang jauh
lebih respect sama Han. Buktinya aja Dia tau ulang tahun Han yang sama sekali
Han nggak pernah bilang soal itu, sedangkan Fathan yang udah lama dekat sama
Han nggak tau soal itu. Apa karena memang Fathan tipe cowok yang cuek? Tapii..
kalo di pikir-pikir lagi. Kayaknya Han ada deh pengalaman Han yang bisa
ngejawab karaguan dan kebingungan Han saat ini. Hmm.. dulu waktu Han dekat sama
Vino. Han selalu di perhatiin sama Dia, semua tentang Han Dia tau tanpa harus
tanya sama Han. Dia selalu ngertiin Han, care sama Han. Sampe-sampe Han dibuat
sayang luar biasa sama Dia. Tapi nyatanya apa? Pada akhirnya Han tau ternyata
Han cuma dijadiin pelampiasan perasaan Dia sama cewek lain yang nggak bisa Dia
dapetin. Salut deh! Dia bisa sepinter itu nutupin semuanya dari Han. Tapi tak
apalah, Han anggap itu pelajaran yang tak ternilai buat hidup Han. Bahkan
mungkin Han harus bilang makasih sama Vino. Karena Dia, Han bisa jadi cewek
yang jauh lebih dewasa dalam menghadapi semua masalah yang ada, sekarang
ataupun nanti J. Nah sekarang kalo
misalkan Fathan nggak begitu care sama Han kayak Gilang, apa Fathan jauh lebih
sadis dari Vino? Think and make your heart and then believe your heart said
about your thinking Jihan! Kata Jihan pada dirinya sendiri yang mem-flashback kisahnya dimasa lalu.
Fathan sayang sama Han dan Han juga sayang sama Dia tapi di sisi
lain juga ada Gilang yang sayang sama Han. Huff! Kata Jihan pada dirinya
sendiri sambil menghela nafasnya. Ya
Ampun, jujur Han nggak mau nyakitin siapa pun tapi Han akan nyakitin semuanya
kalo Han nggak memilih diantara mereka. Oke Jihan! Tentukan pilihanmu sekarang
agar nantinya tak terbeban dan semakin membuat Gilang terus menunggu
ketidakpastian ini. Okey FINE! Kata Jihan pada dirinya sambil beranjak dari
tempat tidurnya dan mondar-mandir di depan tempat tidurnya. Fathan sayang sama Han dan Han juga sayang
sama Fathan. Berarti Han harus milih Fathan. Gilang memang cowok yang baik,
tapi Han anggap Dia temen baik Han, nggak lebih dari itu. Maafin Jihan ya Lang,
Han sama sekali nggak bermaksud buat nyakitin Gilang. Kata Jihan pada
dirinya sendiri dengan wajah bersalah sambil duduk di ujung tempat tidurnya.
Jihan pun memutuskan
untuk tidur kembali setelah memikirkan dan memutuskan apa yang harus Dia
lakukan nantinya. Berarti Han harus yakin
sama keputusan yang Han ambil dan berharap jadi yang terbaik nantinya. Han juga
harus ngejelasin semuanya sama mereka soal keputusan Han ini supaya nggak ada
kesalahpahaman dan semuanya saling ngerti, jadi nggak ada yang tersakiti
ataupun jadi benci. Batin Jihan yang meyakinkan dirinya. Jihan pun
mematikan lampu kamarnya dan menarik selimut sampai menutupi wajahnya.
***
6 Agustus 2011-11:30
WIB
Kriinggg..kriinggg..
!
Tiba-tiba hanphone Jihan bordering mengagetkan
Jihan yang sedang asyik nonton serial ftv.
“halo.” Jihan
menjawab telepon sambil mengecilkan suara televisi.
“halo han, ni aku
Fathan. Kamu lagi apa?” Tanya Fathan dengan nada lembut.
“Fathan?” Tanya
Jihan dengan nada kaget bercampur bingung.
“iya, ini aku
Fathan. Kamu masih ingat kan?”
“masih kok tan. Ada
apa? Kok tumben nih telfon?” Tanya
Jihan dengan suara yang masih bingung.
“jadi gak boleh nih
aku telfon?” balas Fathan dengan nada bercanda.
“boleh kok. Fathan
lagi dimana? Udah balik ke Bandung?”
“ni Fathan lagi di
perjalanan han, kenapa? Kamu kangen ya?” canda Fathan sambil tertawa kecil.
“ihh apa sih kamu
nih k GR-an aja.” Balas Jihan sambil
tersenyum kecil.
“Han. Jihan masih
ingat sama janji Jihan waktu itu sebelum Fathan pulang kan?”
“hhmm.. masih Tan.
Harus jawab sekarang ya?” Tanya Jihan dengan nada semakin bingung.
“gak harus sekarang
kok han. Tapi nanti mungkin sekitaran jam 2 Fathan udah nyampek di Bandung.
Kalo sorenya Fathan minta jawaban dari han, gimana?” Tanya Fathan memastikan.
“sore ya? Oke Tan
nanti sore han jawab.” Jawab Han dengan nada rendah.
“nanti sore jam 5
kita ketemuan di Taman deket rumah kamu aja ya Han?”
“ketemuan? Di taman?”
Tanya Jihan kaget.
“Iya nanti sore kita
ketemuan, kan Fathan mau dengar jawaban dari kamu.” Balas Fathan dengan nada
lembut.
“Oh.. oke deh Tan.
Sampe ketemu nanti sore ya. Daahgg.” Balas Jihan yang langsung menutup telfonnya.
“Ya ampunn.. gimana
nih. Kok bulan agustus cepet banget sih sampek gak kepikiran nih jawabannya
bakal Fathan minta dengan cara ketemuan. Gimana ya nanti jawabnya. Aduhh..”
kata Jihan pada dirinya sendiri sambil mondar mandir pegangin hanphonenya.
At 17:00 WIB-Taman
Bunga Cihideung
Dari jauh tampak
Fathan dengan wajah menantinya sedang duduk di bangku taman. Fathan mengenakan
jaket semi-kulit berwarna coklat dengan baju kaos putih didalamnya yang senada
dengan jeans berwarna coklat yang dikenakannya dan sepatu putih bertali.
“hai Tan.” Sapa
Jihan yang tiba-tiba datang dari arah samping kiri Fathan.
“hai Han.” Balas
Fathan tersenyum sambil beranjak dari duduknya.
“kamu udah lama?
Sory ya lama.” Kata Jihan sambil memegang tas selempang kecilnya.
“nggak kok Han,
Fathan juga baru aja nih.” Balas Fathan tersenyum.
“boleh duduk?” Tanya
Jihan sambil tersenyum dengan maksud bercanda.
“tentu.” Jawab
Fathan sambil menggaruk kepalanya karena salah tingkah.
“nggak terasa udah
bulan Agustus aja, ya. Gimana di sana, Tan? Asikan mana sama di sini?” Tanya
Jihan mengulur waktu.
“di sana sih asik
tapi kurang asik karena nggak ada kamu.” Jawab Fathan sambil tersenyum menatap
Jihan.
“udah pande
ngegombal ya kamu.” Balas Jihan sambil membalas senyuman pada Fathan.
Fathan pun hanya
membalas dengan senyuman malu-malu pada Jihan.
“oh, ya Tan. Soal
jawaban itu. Kalo misalkan Jihan jawabnya ‘nggak’, kamu masih tetep mau temenan
sama Jihan kan?” Tanya Jihan dengan tampang serius.
“hhmm..pastilah Han.
Fathan bakal terima apapun jawaban kamu dan Fathan juga bakal tetep jadi temen
kamu kok.” Jawab Fathan dengan senyum kecil di wajahnya.
“Kalo gitu, Jihan
minta maaf ya Tan. Jihan nggak bisa.” Kata Jihan dengan tampang nggak enakan
pada Fathan.
“nggak pa-pa kok,
Han. Fathan ngerti mungkin Fathan terlalu cepat punya perasaan ini sama Jihan
tapi kalo boleh jujur, Fathan beneran jatuh cinta sama Han waktu kita satu
kelas matrikulasi. Apalagi setelah Fathan mulai kenal sama Han, perasaan itu
semakin menjadi-jadi. Maaf ya Han kalo Fathan terlalu cepat ngungkapin perasaan
ini.” Kata Fathan sambil tersenyum kecil menahan perih.
“Han juga minta
maaf, Tan. Maafin Jihan ya karena Jihan sebenarnya emang nggak maksud buat
nggak terima kamu.” Balas Jihan sambil tersenyum menatap wajah Fathan.
“jadi?” Tanya Fathan
sambil tersenyum namun wajahnya bingung.
“iya, Tan. Jihan
juga punya perasaan yang sama ama Fathan, jadi Jihan nggak bisa kalo nggak
terima kamu.” Jawab Jihan sambil tersenyum.
Fathan pun tak bisa
menyembunyikan kesenangannya karena ternyata Jihan memiliki rasa yang sama
terhadap dirinya. Fathan berharap Jihan menjadi cinta terakhirnya karena Fathan
menyukai Jihan bukan hanya karena wajahnya yang manis tapi juga pribadinya yang
menyenangkan dan baik.
~~~

Tidak ada komentar:
Posting Komentar